CERPEN CINTA KUCH NAHI HAI



KUCH NAHI HAI

( Tidak ada satu pun )

Sumber:https://www.google.com/search?q=GAMBAR+ANIMASI+KARTUN+KOREA+CINTA+SEGITIGA&tbm diunduh tanggal 7 Mei 2020

Namanya Syam, pria berusia 21 tahun yang baru tiga bulan ini dikenal oleh Mey.Mey adalah seorang calon guru yang baru saja menyelesaikan studynya disalah satu perguruan tinggi negeri di Banjarmasin, sedangkan Syam adalah seorang pemuda yang berasal dari daerah Kabupaten Banjar yang sedang mengadu nasib di Banjarmasin. Syam merantau ke Banjarmasin dengan tujuan ingin mengikuti tes seleksi polisi.
Setelah lulus kuliah Mey tinggal bersama tantenya, maklumlah untuk menghemat biaya hidup karna setelah lulus kuliah Mey belum mendapatkan pekerjaan, untung-untung dan lebih enak ikut tinggal dengan keluarga bisa makan gratis dan tidur gratis ehehehe.
Setiap hari Mey mengajari anak-anak tantenya yang masih bersekolah SD dan TK, ketika ada PR ataupun ketika sedang musim ulangan. Lumayan terkadang Mey dapat uang jajan dari tantenya setiap akhir pekan. Tantenya juga yang berusaha mencarikan pekerjaan untuk Mey sebagai tenaga honorer di sekolah anaknya. Dan alhamdulilah Mey langsung diterima menjadi tenaga honorer disalah satu Sekolah Dasar di Banjarmasin.
Mey memiliki seorang kekasih bernama Vin, seorang yang sederhana dan pekerja keras, Vin sudah dikenal sejak Mey sejak Mey kuliah dan selama ini Vin banyak membantu Mey selama hidup diperantauan, dari antar jemput kuliah dan saat apapun Mey memerlukan bantuan Vin selalu siap, mungkin ini lah tanda kasih sayangnya untuk Mey Vin selalu ada saat Mey memerlukannya.
Hubungan Mey dan Vin sudah berlangsung empat tahun lebih dan keduanya sudah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat. Yach sambil mengumpulkan uang untuk melamar Mey, Vin dengan giatnya bekerja bahkan selalu ambil lemburan sampai-sampai terkadang susah untuk bertemu Mey.
Sementara itu Syam mulai memberikan perhatian terhadap Mei, Syam mulai mengirim sms-sms kecil yang bernada perhatian, Mey tinggal bersebelahan rumah dengan Syam, setiap saat bertemu dan ngobrol santai, keakraban mereka mulai terjalin hingga saat itu Syam mengajak Mey untuk makan bakso. Teringat sore tadi Mey berujar kepengen makan bakso sigap Syam langsung mengajak Mey. Namun Mey merasa tidak nyaman jika berduaan saja jadi Mey meminta beberapa teman untuk ikut. Pergilah mereka malam itu Mey satu kendaraan dengan Syam. Entahlah saat ini Syam mulai penuh perhatian dan Mey mulai hanyut dalam perhatian yang diberikan Syam.
“ Tau gak Mey malam ini aku seneng banget bisa jalan sama kamu” ujar Syam
“ Masaa???” jawab Mey dengan nada tidak percaya
“ Nah, gak percaya” agak ngambek si Syam
Sesampai di tempat makan mereka langsung memesan bakso, dan minuman sesuai selera mereka masing-masing.
“ Berdoa dulu sebelum makan”sambil berbisik ditelinga Mey
“ Iya “ celetuk Mey
Lalu Mey mengambil mangkok sambal dengan penuh ambisi, Mey hobby nya memang makanan pedas, kalau ditidak pedas Mey gak doyan makan, tapi Syam tiba-tiba menarik mangkok sambal itu dari Mey
“ gak boleh makan pedas nanti sakit perut!” kata Syam
Waduh ne cowok berani banget ya melarang-larang Mey, padahal setiao orang kan berhak makan pedas atau makan apa aza yang dimau, apa urusannya dia larang-larang pacar bukan, bokap bukan. Agak sebel sih si Mey. Tapi akhirnya Syam membolehkan saja Mey memakan sambal karena melihat raut wajah Mey yang cemberut, dia ambil seujung sendok sambal  dan menuangkannya kedalam mangkok Mey.
“Segini aza ya... “ dengan nada datar dan merasa tidak bersalah sama sekali, cowo ini seolah ingin mencoba mengendalikan hidup Mey. Tapi anehnya Mey akur saja dengan aturan Syam justru Mey merasa sangat diperhatikan oleh Syam.
Selesailah mereka menikmati bakso dan menuju pulang, dalam perjalanan Syam terus saja memuji dan mengambil hati Mey
“Tau gak Mey baru kali ini aku bertemu cewe yang benar-benar sempurna dimataku sudahnya cantik, pintar, sholehah dan keibuan. Cocok banget untuk dijadikan istri, kenapa ya baru sekarang dipertemukan? Celetuk Syam
“Hahaha... ini calon istri orang omm, jangan macem-macem yaach” ujar Mey
Syam lalu menarik tangan Mey sambil berucap “Bisa gak aku curi?”
Mey gugup menjawabnya dalam hati berani bener ini cowok mau nyuri milik orang lain senekat itukah Syam?
Malam itu semakin dingin dan Syam semakin laju mengendarai motornya tiba-tiba Syam menikung kearah lain yang bukan menuju arah pulang dan sepertinya Syam juga mencoba melarikan diri dari rombongan  teman-teman Mey. Sontak Mey terkejut.
“Syam, kenapa lewat jalan ini? Bukannya jalan pulang kearah sana? Nanti dicari temen-temen loch...”ujar Mey
“Biar aza, sengaja kok kabur dari mereka biar kita bisa berduaan” kata Syam
“Nakal ya kamu” sambil mencubit kecil tangan Syam
Gak tau kenapa Mey merasa nyaman saat didekat Syam, Syam selalu tau apa yang diinginkan Mey namun Mey juga merasa bersalah dengan Vin, Mey merasa sudah mengkhianati Vin saat ini.
Syam mengantar Mey sampai rumah sambil memegang tangan Mey Syam mengutarakan isi hatinya pada Mey
“Mey aku sayang sama kamu, tapi aku gak menuntut kamu harus jadi milikku”tatapan mata Syam penuh kasih sayang dan harapan dia benar-benar ingin menjadikan Mey sebagai kekasihnya. Mey hanya bisa tersenyum, bibirnya tak dapat mengatakan apa-apa
“Selamat malam, tidur yang nyenyak ya malam ini Mey”Syam pun pulang
Hati Mey benar-benar menjadi tidak tenang dengan ucapan Syam barusan, Mey gelisah bahkan tidak bisa tidur. Rasa ingin marah tapi juga sekaligus merasa senang, ketika merasa senang kembali dia merasa sedih karena merasa megkhianti Vin. Oh My Good apa yang harus Mey lakukan?

Beberapa hari kemudian Vin datang menemui Mey, entah kenapa saat itu tidak seperti biasanya. Biasa kehadiran Vin sangat dinantikan Mey tapi saat ini Mey merasa biasa saja, Vin ingin membicarakan masalah pertunangan mereka, Vin memberi kabar bahwa minggu depan keluarganya akan datang kerumah Mey untuk melamar. Memang ini yang mereka rencanakan sebelumnya.
Acara lamaran pun berlangsung dan sudah ditentukan bahwa kurang lebih tiga bulan lagi acara pernikahan akan dilaksanakan.
Mey lega karena sebentar lagi apa yang Mey dan Vin rencanakan akan segera terwujud, namun ada yang mengganjal dihati Mey. Entah apa itu ada perasaan tidak nyaman, sedih bercampur aduk.

Keesokan harinya setelah pertunangan Mey kembali ke Banjarmasin untuk menemui Syam,
“ hay apa kabar “ ujar Syam
“ Syam aku sudah bertunangan dengan Vin dan tiga bulan lagi kami akan menikah” Mey memberanikan diri mengatakan ini dengan tegas maksudnya adalah agar Syam mengerti dan meninggalkannya.
“ Aku sudah tau “ dengan wajah sedih Syam menjawabnya
“ tapi masih ada waktu tiga bulan lagi kan? Masih bolehkan aku bersama mu Mey? Ujar Syam
“ Apa ???” Mey terkejut dengan jawaban Syam
“ Beri aku waktu tiga bulan ini untuk membuktikan rasa sayang ku Mey, beri aku kesempatan sekali ini saja dan mungkin ini kesempatan terakhir. Entah kau benar-benar menikah dengannya ataupun kamu ambil pilihan lain, yang jelas untuk saat ini kamu belum menjadi istri siapapun, dan aku masih punya hak untuk merebutmu” jelas sekali ucapan Syam kepada Mey
Mey menjadi sedikit takut, tapi Mey juga tidak bisa memungkiri bahwa dia juga mulai menyukai Syam dan tidak ingin jauh dari Syam.
“Tolong beri aku kesempatan Mey, tiga bulan saja untuk menjadi seseorang yang berarti buat kamu, setelah ini... setelah tiga bulan berlalu aku akan terima apapun keputusanmu” Syam berucap dengan penuh harap dengan tatapan mata yang serius
Mey tak kuasa dengan tatapan itu dan akhirya Mey mengiyakan nya.
Sebulan telah berlalu, kebersamaan Mey dan Syam semakin dekat kemanapun Syam mengantar Mey, bahkan antar jemput Mey kerja, lalu kemana Vin? Vin masih dan selalu sibuk dengan pekerjaannya jarang sekali mereka bertemu, seminggu sekali itu pun kadang diwarnai pertengkaran dan kesalah fahaman. Mey merasa Vin tidak lagi perhatian seperti dulu, Mey merasa Vin mulai mencuekannya.
Disisi lain Syam selalu sigap dengan segala perhatian dan kejutan-kejutan manisnya.
“ Mey suka bunga apa?” tanya Syam
“ Mawar kata Mey” gak lama Syam membawakan beberapa pot bunga mawar aneka warna
Mey tertawa geli “ ya ampun masa sepot-potnya dikasih?”
“Iya Mey biar kamu bisa merawatnya sekalian sayang kalau aku ngasih setangkai aza pasti nanti layu terus kamu buang, kalau begini kan bisa berbunga terus” ujar Syam
“Hmmmmm.... makasih Syam” dengan senangnya Mey menerima pohon-pohon mawar itu

Tak terasa sudah dua bulan mereka lalui,jalan bareng, makan bareng saling curhat sampai mereka merasa mulai mengenal satu sama lain. Mey menemukan sosok yang selama ini dia cari ada pada Syam, sosok seorang cowo yang penuh perhatian dan kasih sayang. Sholatnya yang gak pernah ketinggalan, Syam juga sayang sama anak kecil, bahkan pintar masak hehehe... benar-benar calon suami impian Mey.

Sementara Vin yang saat ini perhatiannya mulai berkurang dengan segala kesibukannya ditempat kerja membuat Mey terkadang merasa jengkel dan lebih ingin menghabiskan waktu dengan Syam. Hari itu Vin datang untuk mengajak Mey memilih gaun pengantin dan memilih jenis undangan yang di inginkan untuk acara pernikahan mereka. Tiba-tiba saja Mey merasa enggan dan menolaknya

“ Ayolah Mey kapan lagi kita bisa memilih baju dan undangan? Aku sudah janji dengan tante Ida untuk datang hari ini bersama mu” rayu Vin
“Aku lagi gak enak badan Vin, tolong ngerti... lain kali aza kita kesana” terpaksa Mey berbohong karena saat ini Mey benar-benar meragukan dirinya sendiri apa ia benar-benar ingin menikah dengan Vin
“ Ayolah sayang, aku sudah meluangkan waktu hari ini gak tau kapan lagi aku bisa. Besok aku keluar kota dengan bos, mungkin beberapa hari disana Mey”jelas Vin
“ Yach sibuk terus, sibuk terus... Kamu tau gak sih Vin perhatian mu semakin berkurang, kita jarang bertemu bahkan terkadang aku gak tau bagaimana kabarmu, bagaimana keadaanmu, kamu lagi dimana” Mey mulai menyindir
“aku lakukan ini semua buat kamu Mey, buat pernikahan kita... kenapa kamu ngomong kayak gitu?” Vin sepertinya mulai kesal
“Ya setidaknya kamu kasih kabar ke aku, ini enggak.... telpku gak pernah diangkat sms gak dibalas, kesel tau gak!!!”
“Okey aku malas berdebat dengan mu” sambil mengambil kunci motor Vin langsung pergi meninggalkan Mey, Mey sangat terkejut karena Vin menendang pagar besi milik tante untuk melampiaskan kekesalannya.
Begitulah Vin, ketika marah dia langsung melampiaskan kebenda-benda yang ada didekatnya. Pernah suatu ketika mereka bertengkar hebat lalu Vin membanting kursi dihadapan Mey kemudian pergi begitu saja, pagar seng tempat Mey ngekos pun sempat jadi korban tendangan Vin. Sebenarnya Mey agak takut dengan sikap Vin yang seperti itu namun selama yang ditendang dan dipukul bukan dirinya Mey merasa tidak mempermasalahkannya.

Setelah kejadian itu Mey dan Vin tidak ada komunikasi sama sekali, padahal waktu pernikahan mereka tinggal sebentar lagi. Namun akhirnya Vin yang mengalah menelpon Mey dan meminta maaf karena selama ini dia kurang memperhatikan Mey. Vin juga meminta Mey untuk segera mereka menyiapkan pernikahan mereka, Vin bahkan sudah mengambil cuti beberapa hari untuk menemani Mey memilih gaun pengantin dan persiapan lainnya. Akhirnya Mey pun mengikuti Vin, karena Mey juga tidak ingin membuat calon suaminya ini kecewa.

Sepulang dari perjalanan dengan Vin, Syam menunggu Mey didepan teras rumahnya. Setelah melepaskan Vin pulang Mey lalu menemui Syam yang telah menunggunya
“Mey ada hal penting yang ingin ku bicarakan dengan mu” sambil menatap Mey
“Ya... aku juga ada yang ingin aku bicarakan” sahut Mey
Dengan nada berat Mey mengatakan pada Syam bahwa dia sudah memilih gaun pengantin, dan undangan sudah mencetak undangan.
“Syam maaf aku memang harus menikah dengannya” tak terasa air mata menetes dari mata Mey raut wajahnya yang pasrah dengan keadaan yang memang sudah selayaknya terjadi
“ Aku.... Aku gak bisa meninggalkan Vin, a...aku gak bisa..” airmata semakin deras mengalir dipipi Mey, Mey melihat kekecewaan dimata Syam namun Syam mencoba untuk tetap tegar dan tidak tega melihat airmata diwajah orang yang disayanginya ini. Dengan lembut Syam menghapus air mata itu dan memeluk Mey
“Aku sebenarnya gak ingin kehilanganmu, aku ingin selalu bersama mu Mey, seandainya bisa aku memintamu untuk membatalkan semua rencana pernikahanmu ini...itulah keinginan dari hatiku yang paling dalam” ungkap Syam dengan sepenuh hatinya
Mey sangat terkejut dengan pengakuan Syam
“ Bukannya dulu kamu bilang hubungan kita ini hanya akan berlangsung selama tiga bulan saja sampai hari pernikahanku?”
“Iya, tapi ternyata aku tidak sanggup melepas mu, semakin dekat hari pernikahanmu ternyata aku semakin takut kehilanganmu” ucap Syam

Pernyataan Syam ini membuat Mey terus berfikir karena dia sendiri juga tidak ingin kehilangan Syam, disisi lain dia tidak ingin menyakiti Vin calon suaminya. Mey bingung apa yang harus dia lakukan. Apakah harus membatalkan pernikahannya untuk Syam, meninggalkan dan menkhianati Vin yang selama empat tahun sudah bersamanya. Ataukah melanjutkan pernikahannya tanpa memikirkan perasaan Syam yang sangat mencintainya?

Mey benar-benar pusing memikirkannya, kegalauan ini tidak dapat ia ceritakan pada siapapun. Mey hanya bisa menangis tak bisa memutuskan apa-apa, hingga pada satu ketika Syam datang mengajak Mey jalan.
“ Mey kita jalan sebentar yuk, biar gak sedih terus”
“ Kemana?” sahut Mey
“Ayok ikut aza” sambil menggandeng tangan Mey
Mey tidak menyangka ternyata Syam mengajak Mey kerumah kedua orangtuanya dan mengenalkan Mey sebagai calon istrinya.
Sambutan kedua orangtua Syam sangat baik kepada Mey, mereka terlihat senang dengan Mey.
“Syam.... kenapa kamu bawa aku ksini??” bisik Mey
“Kamu gak senang Mey aku ajak bertemu kedua orangtua ku?” tanya Syam
“ini tanda keseriusanku Mey” sambil melirik Mey dan melihat bagaimana reaksi Mey
“ Kamu ini aneh Syam, aku sudah mau jadi milik oranglain kan?”
“UUUuuuussst........jangan bicarakan itu dulu” sambil menutup mulut Mey dengan jarinya

Sepulang dari kediaman orangtua Syam perasaan Mey semakin galau, waktu pernikahan Mey dan Vin tinggal dua minggu lagi. Dalam hati Mey apakah rencana pernikahan nya dengan Vin harus dibatalkan?
Kembali muncul pertanyaan itu, Mey ingin membatalkan pernikahan namun tak sanggup menyakiti hati Vin, Mey ingin tetap menikah namun hatinya tak bisa melepaskan Syam. Benar-benar sebuah pilihan yang sulit.
Diatas sejadah dia memohon petunjuk agar diberikan pilihan yang benar oleh Allah,Mey benar-benar merasa galau, disaat yang sama dia merasa menyayangi kedua cowo ini dan tak bisa kehilangan mereka, tak ingin pula mneyakiti salah satu dari mereka jika Mey telah mengambil keputusan nantinya.
Pagi itu seperti biasa Syam mengantar Mey pergi kerja, Mey tidak banyak bicara pada Syam sampai-sampai Syam merasa heran.
“ Mey kenapa diam saja daritadi, marah ya sama aku? Tanya Syam
“ Gakpapa Syam, aku gak marah” sahut Mey perlahan
“ Nanti malam kita jalan ya, mungkin saja ini malam terakhir kita jalan bareng” kata Syam
Mey hanya diam dan menganggukan kepalanya.
Hari terasa semakin cepat berlalu, seminggu lagi pernikahan Mey dan Vin akan dilaksanakan, kegalauan Mey semakin menjadi karena Mey merasa tidak akan pernah bisa melepaskan Syam. Dia sangat menyayangi Syam walaupun mereka baru berkenalan tapi Mey merasa sudah lama mengenal Syam, dan Mey tidak akan sanggup menyakiti hati Syam untuk menyaksikan pernikahannya nanti.
Malam ini Mey dan Syam makan malam bareng, ada yang aneh dengan sikap Syam ada yang berbeda, Syam tiba-tiba saja menyuapi Mey.
“iiih... apa-apaan Syam, malu ah dilihat banyak orang”kata Mey
“ ayooo... A... aaa.....” Syam memaksa Mey membuka mulutnya untuk menyuapkan sesendok nasi goreng.
Akhirnya Mey mau juga disuapin Syam, tapi sebenarnya Mey merasa sangat malu disekitar mereka juga banyak pasangan kekasih yang sedang makan bareng,
“Syam kita diliatin orang tuuuuu...” sambil menunjuk pasangan yang ada disebelah kiri mereka.
“Cuek aza ah, kan aku sayang” katanya pada Mey
“Hmmmmm... bisa aza kamu Syam” sahut Mey sambil tersenyum kecil malu malu
Syam pun mulai iseng nih menyenggol bahu Mey, Mey juga membalas dengan senggolan kecil lalu mereka tertawa bareng.
Ada kesedihan dihati Mey saat itu, Mey merasa moment seperti ini nantinya yang akan dia rindukan, saat-saat bersama Syam yang ramah yang penuh perhatian dan kasih sayang. Mey tidak ingin malam ini cepat berlalu, selesai makan Mey masih mau jalan-jalan menikmati indahnya kota Banjarmasin menyusuri jalan dipinggiran Sungai Barito yang dihiasi lampu warna-warni. Syam menghentikan motornya kemudian menggandeng Mey mendekati siring pagar ditepi sungai besar tersebut.
“ eits... eitsss.... kamu gak ngajak aku bunuh diri kan disini Syam? sambil bercanda Mey menggengga erat gandengan tangan Syam
“Ngapain bunuh diri coba? Macam-macam aza” sahut Syam
Mereka berdua menikmati hembusan angin yang sejuk malam itu ditepi sungai sambil sesekali memandang kelotok yang lalu lalang disana yang suaranya memekakkan telinga.
“ Syam pulang yuk sudah malam” sambil melihat jam tangan yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam
“Bentar Mey, ada sesuatu yang ingin ku berikan padamu” Syam mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya, sebuah kotak kecil kemudian Syam membuka kotak tersebut dan mengarahkannya kehadapan Mey. Mey sangat terkejut isinya sebuah cincin mungil bermata satu, Syam langsung memasangkannya kejari manis Mey yang disebelah kiri, karena Syam tau dijari sebelah kanan ada cincin pertunangan Mey dan Vin.
“ ini.... maksudnya apa Syam?” tanya Mey
“Gak apa-apa, aku cuma ingin memberi sebuah hadiah kecil untukmu Mey. Aku ingin kamu tidak melupakan aku setelah kamu menikah nanti. Pandang cincin itu jika kamu merindukan ku”Syam mengatakan ini sambil menghela nafas, Mey tau begitu berat Syam mengucapkan kata-kata tersebut.
Kedua mata mereka saling menatap, dan Mey memberikan sebuah kecupan manis dibibir Syam.
“Jangan pernah lupakan aku juga Syam”Mey tak mampu membendung air matanya, airmata karena Mey takut kehilangan Syam
“Syam sebenarnya aku ingin sekali membatalkan semuanya untukmu, tapi sepertinya sudah terlambat Syam.... dan aku tidak bisa mengecewakan Vin dan keluarga kami”
“Ini benar-benar berat buat aku, kamu tau kita sekarang ini ada diposisi yang salah. Gak seharusnya aku bersamamu sementara aku sudah merencanakan pernikahan dengan Vin. Tapi aku gak bisa membohongi perasaan ini, bahwa aku benar-benar menyayangi kamu”
“Sudah lah Mey, sekarang aku tidak akan menuntutmu untuk membatalkannya. Aku akan mencoba untuk megikhlaskanmu bersamanya. Berbahagialah bersamanya ya sayang” sambil membelai rambut Mey, sepertinya Syam malam ini sedang mengucapkan kata perpisahan mereka.
“Iya... aku akan mencoba bahagia Syam, meskipun ini berat tanpa kamu”
Syam kemudian mengantar Mey pulang, tangan Syam seperti tidak ingin melepaskan Mey. Dia lalu merangkul Mey yang berjalan disampingnya. Sampai diteras rumah Mey sangat terkejut ternyata Vin telah menunggunya dan menyaksikan kedekatan Mey dan Syam.
Dengan penuh emosi Vin lalu melayangkan pukulan pada Syam. Terjadi lah baku hantam diantara keduanya.Mey berusaha melerai mereka dan berusaha memisahkan mereka, Mey lalu menarik tangan Syam dan menyuruh Syam untuk megalah dan pergi.
Vin benar-benar marah malam itu pada Mey dan Syam
“Apa-apaan kamu ini Mey, apa yang kamu lakukan bersama pemuda itu Mey? Kamu menghianati aku Mey?!!!”
“Kamu sendiri tau kita akan menikah, apa yang kamu lakukan Mey??!!!” teriak Vin dihadapan Mey
“Vin maaf..... aku minta maaf.... aku gak bermaksud menyakiti kamu Vin” Ucap Mey dengan nada penuh penyesalan.
“Benar-benar tega kamu Mey” dengan penuh kesedihan dan kekecewaan Vin langsung pergi meninggalkan Mey
Mey benar-benar merasa menyesal, tak diharapkan nya Vin mengetahui semua ini, dia tak ingin Vin terluka. Mey mencoba menghubungi Vin namun telepon genggam milik Vin sepertinya tidak di aktifkan.
Mey sangat cemas dengan keadaan Vin, pasti Vin merasa sangat hancur kecewa dan sedih atas apa yang telah Mey lakukan. Vin paasti tidak akan meyangka Mey tega mengkhianatinya.
“Apa yang harus kulakukan.... ternyata aku juga sangat takut kehilangan Vin setelah kejadian malam ini” bisik Mey dalam hati
Mey tidak berhenti menagisi kejadian malam itu, tangis Mey adalah tangis penyesalan, tangis kesedihan karena takut kehilangan Vin.
Keesokan paginya Mey langsung menuju rumah Vin untuk menggetahui bagaimana keadaan Vin dan ingin menjelaskan semuanya, tapi ternyata Vin telah pergi dari Banjarmasin dia meninggalkan sepucuk surat untuk Mey. Mey sangat takut untuk membaca surat itu, sambil menangis dan tangan gemetar Mey memberanikan diri untuk membuka dan membacanya.
“Mey.... sungguh sakit rasanya mengetahui semua ini, aku tidak bisa menerima semua ini Mey. Aku rasa kita batalkan saja semua rencana pernikahan kita, aku pergi dan kuharap kita tak kan pernah bertemu lagi. Biarkan aku menenangkan diri dan aku tidak ingin menemuimu lagi” Ini ucapan terakhir Vin dalam suratnya. Mey mencoba menghubungi namun nomor telefon yang dituju selalu tidak aktif. Mey benar-benar merasa hancur, dia terlarut dalam penyesalan yang teramat dalam. Seandainya saja dia tidak bertemu dengan Syam, seandainya dia tidak memberanikan diri untuk menerima cinta Syam mungkin Mey dan Vin akan berbahagia saat ini. Sekarang Mey bahkan tidak bisa bertemu dan berkomunikasi sama sekali dengan Vin. Barulah Mey menyadari begitu berartinya Vin dalam hidupnya, Mey sangat sedih telah kehilangan Vin. Dia merasa bersalah dan sangat berdosa telah melakukan pengkhiantan terhadap Vin.
Mendengar pembatalan pernikahan Mey, Syam mencoba menghubungi Mey untuk menanyakan kabar Mey dan mengetahui keadaan Mey. Berhubung beberapa minggu Syam tidak mengetahui kabarnya Syam pun menghubungi Mey lewat telefon. Karena setelah kejadian pertengkaran dengan Vin malam itu Syam memilih untuk kembali ke tempat tinggal orangtuanya.
“Bagaimana kabarnya Mey” tanya Syam
“Baik” sahut Mey singkat
“Aku dengar tentang kamu dan Vin, Mey”
“Emmmm... ya “ sahut Mey lagi dengan singkat, mereka Syam dan Mey seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal lagi. Mey pun bersikap dingin terhadap Syam
“Kamu marah sama aku ya Mey?” tanya Syam
“Kenapa harus marah?” tanya Mey
“Karena aku yang menyebabkan semua ini kan Mey, aku minta maaf sudah mengacaukan semuanya” Syam sepertinya juga sangat meyesal
“ Sudahlah Syam ini bukan salah siapa-siapa, aku marah dengan diriku sendiri. Memang sudah seharusnya seperti ini Syam, aku sudah menerima semuanya” jelas Mey
“Lalu bagaimana dengan kita Mey?” sepertinya Syam masih berharap pada Mey
“Syam, bukannya diantara kita sudah berakhir sebelum kejadian malam itu? Jadi ku mohon jangan hubungi aku lagi ya Syam” Mey mencoba menahan airmatanya
“Tapi Mey.....?”
Tiiiiiiiiit............ Mey mematikan telefonnya
“Mey Tunggu.... Mey,,,,,,???
Syam mencoba  menelponnya kembali namun Mey tidak mengangkatnya. Mey merasa lebih lega dengan keadaan seperti ini, dengan kepergian Vin dia tidak mencoba untuk menjalin kembali hubungannya dengan Syam. Ada rasa bersalah dan berdosa jika ia kembali pada Syam. Sebenarnya berdosa pada siapa?? Ya... pada Vin, juga pada dirinya sendiri. Dengan seperti ini Mey mencoba untuk menhukum dirinya sendiri untuk menebus semua kesalahannya pada Vin.
Pada akhirnya tak ada satupun yang dimiliki Mey, tidak Vin dan tidak juga Syam. Tidak ada pula yang memiliki Mey, Mey untuk saat ini memilih sendiri dulu untuk memperbaiki dan menata kembali hatinya. Syam pun mencoba benar-benar mengikhlaskan Mey dan menghargai semua keputusan Mey.
Pelajaran berharga dalam hidup Mey dari peristiwa pahit ini, Mey berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengulagi perbuatannya tersebut dan mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan lebih baik lagi.




Komentar